Uwak Oto dan 40 years of silence an indonesian tragedy

Posted on Updated on

40Years-FB_Cover_Photos-Degung-300x111Setelah sebelumnya menonton Jagal karya dokumenter dari Joshua Oppenheimer, tentang Anwar Congo eks pelaku genosida di Sumatera (yang juga tokoh PP disana), lalu jauh di tahun sebelumnya Shadow Play, masih film bergenre dokumenter juga, kali ini tentang bagaimana tragedi 65 terjadi dan hubungannya dengan kuasa Barat (CIA). Maka pagi tadi saya menyempatkan menonton ’40 years of silence an indonesian tragedy’ yang lebih menekankan pada pengalaman korban yang masih selamat beserta kisah hidupnya dan bagaimana kondisi kejiwaan mereka hingga kini.

Membaca (atau menonton tepatnya) bagaimana peristiwa itu bisa terjadi jauh puluhan tahun lalu, di negara ini, negara tempat kita hidup kini, seakan-akan ada tanda tanya besar, mungkinkah??? Betapa mengerikan sekali, sungguh nyawa menjadi begitu murah. Saudara sendiri, tetangga, orang yang kita kenal tiba-tiba menjadi musuh dan laik dihukum karena karena label atau pen’cap’an yang berbeda.

Putaran Sejarah

timthumb.phpSejarah yang selama ini dipercayai sebagai kebenaran ternyata amat mungkin dibalikkan, direkayasa untuk kepentingan tertentu. 3 film dokumenter di atas adalah bunyi sejarah lain yang muncul dari sejarah dominan yang mungkin selama era pra reformasi dijadikan kebenaran tunggal. Wajah lain sejarah itu ternyata menampar muka kita sendiri, bagaimana konflik itu terjadi dan bagaimana hal itu dilakukan oleh teman sebangsa sendiri.

Dan mungkin baru kemudian saya bisa sadari bagaimana hal ini juga menimpa salah satu kerabat saya sendiri, tepatnya dari keluarga Mamah. Diantara sekian jumlah saudara Mamah, ada satu orang Kakak Mamah yang tinggal di pegunungan dan jauh dari khalayak. Saat itu hanya pikiran polos saya saja yang memercayai bahwa Uwak saya itu memang gemar bertani dan menyendiri. Rupanya ada hal lain yang turut mewarnai latar belakang keluarga besar Mamah untuk kemudian mengasingkan dan menyimpannya nun jauh di pegunungan.

Apalagi kalau bukan dugaan (atau mungkin kebenaran) keterkaitannya dengan PKI. Rupanya hal ini yang membuatnya terasing/diasingkan bahkan kemudian saya mengetahui bagaimana anak dan istrinya pergi meninggalkan dia begitu saja. HIngga ajal menjemputnya di penghujung tahun 1999 hanya keluarga terdekat saja yang menemani. Saat itu usia saya belum genap 15 tahun hingga belum begitu mengerti ada apa.

512Sekarang mungkin saya bisa memaklumi, bahwa ada ketakutan besar dari saudara yang lain jika Uwak saya ini tertangkap dan kemudian dieksekusi mati atau menjalani hukuman sebagai TAPOL. Terlepas dari benar atau tidaknya dia terlibat dengan PKI (yang ketika saya tanyakan kepada saudara yang lain dijawab ambigu dan kabur). Yang pasti separuh hidupnya ia jalani terasing, jauh dari keramaian, tidak ada satupun keluarga yang menemani, termasuk anak dan sang istri. Dahulu ketika keluarga besar Mamah masih lengkap, hanya hari-hari besar saja kami berkumpul dan mengunjungi beliau sambil membawakan makanan kota.

Andai saja ia bisa hidup lama pasca reformasi, mungkin sedikitnya ia bisa merasakan kebebasan. Dimana pandangan masyarakat perlahan sudah mulai berubah dan terbuka. Sejarah pun kini bisa di kritik, dipertanyakan dan tidak tunggal. Masih dimungkinkan muncul kebenaran sejarah yang lain dalam versi yang berbeda. Uwak Oto (demikian biasanya saya panggil beliau di gubuknya itu) adalah satu dari sekian ribu orang lainnya yang menjalani separuh hidupnya dengan ketakutan, stigma negatif bahkan cibiran laiknya binatang. Sayang memang ia telah mendahului kami, pun demikian terlambat pula bagi saya untuk mengorek lebih jauh bagaimana kisah hidupnya dulu, tentang pekerjaannya (yang kata Mamah sebagai perwira AL), lalu anak-anaknya yang hilang bak ditelan bumi, hingga keputusannya menerima hasil musyawarah keluarga untuk mengasingkannya di atas gunung, jauh dari keramaian, jauh dari keluarga dan jauh dari kegiatan yang biasa ia lakukan dalam keadaan normal.

makam k nurizalJika ia masih hidup, mungkin bisa ia ceritakan pengalamannya itu padaku. Sama seperti dalam film 40 years of silence an indonesian tragedy di atas, dimana Pak Kareta, Lanny, Degung dll yang secara runut menjelaskan pada sang pewawancara. Hanya makam bisu saja kini yang menandai namamu, Uwak. Nun jauh disana, di Majalaya []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s