Month: February 2014

Personality Disorder

Posted on Updated on

The Scream
The Scream

Jujur saja, pagi ini selepas mengantar si sulung ke tempat berenang, muncul keinginan untuk membuka-buka kembali artikel psikologi, khususnya tentang masalah kejiwaan, personality disorder dan istilah lainnya yang berkaitan dengan itu. Dulu bacaan serupa doyan kulahap berjam-jam, di sela-sela belajar di kelas misalnya atau dalam perjalanan dari rumah ke sekolah. Beberapa teorinya masih membekas hingga kini, namun sebagian besar yang lain lenyap menguap. Teori itu kadang ikut membantu mengenal diri, awalnya serampangan saja. Namun makin lama kemampuan itu semakin terasah dengan pola pemikiran yang sudah runut.

Proses tumbuh kembang yang kurang baik dari anak-anak ke remaja, memang menjadi akar masalahnya. Ada letupan-letupan yang tidak memiliki muara, tekanan yang keras hingga sulitnya mencari sosok ideal yang dapat dijadikan imitasi pribadi. Figur yang baik biasanya berfungsi sebagai kiblat imitasi itu. Sebaliknya figur yang salah menjerumuskan pada sikap dan tingkah laku yang salah pula. Namun keduanya tidak banyak dijumpai saat itu. Alih-alih mendapat sandaran penilaian pribadi, yang ada malah kegamangan yang luar biasa. Sulit bersikap, menentukan posisi, bingung dalam mencari aktualisasi diri hingga terkadang menarik diri dari lingkup pergaulan sosial.

Dalam teori disasosiasi, tekanan yang deras, jiwa anak-anak masih belum cukup kuat untuk menahannya. Sebagian melarikan diri kedalam bentuk defense of mechanism nya sendiri; halusinasi, lari dan menciptakan imaji tokoh, diri atau dunia yang ideal dan nyaman. Depresi seolah hilang, namun sesungguhnya ia melekat dalam diri. Jika terbiasa demikian maka tentu berdampak pada proses perkembangan pribadi pada saat remaja lalu dewasa. Ibarat kerat yang melekat, dan darah yang sudah mendaging maka kebiasaan itu akan sulit dilepaskan hingga mengaburnya yang mana realitas dan rekaan pikiran. Ini bahaya bukan??!! Maka buku beserta teori yang menyertainya mampu mengurai benang kusut itu. Menjelaskan secara bertahap, dengan tinjauan yang amat sangat luas disertai sudut pandang yang beragam; mulai dari analisis freudian dan lain sebagainya.

Saat itu bacaan menjadi sandaran penting dalam mengenali masalah, memahami diri dan mencari solusi. Keinginan yang kuat menjadi bara yang mampu menggerakkan diri menjadi action… dan action. Jatuh bangun pada awalnya namun manis di penghujungnya. Hingga kemudian masa manis itu kembali menggayut mendung. Ibarat sejarah peradaban yang berada di puncak-kolaps-lalu klimaks-dan kolaps lagi maka mungkin inilah saat dimana masa manis itu berangsur jatuh ke titik nadir. Kembali bermasalah, kebingungan dan nyaris tak mampu mengenali diri lagi. Solusi tentu mudah ketika masalahnya mampu dikenali dulu. Alih-alih demikian, lupa dan kesal yang kini mendera. Sejurus pertanyaan-pertanyaan yang dulu telah hilang kini mulai kembali menampakan diri. Diawali dengan berbisik, lalu semakin kencang hingga pekak. Tapi aku tak tahu siapa, dan harus menjawab apa???

Advertisements

Karakter Orang Dilihat Dari Caranya Membayar Kewajiban Tiap Bulannya

Posted on Updated on

gambar tanda tanya.... tipe orang tuh macam-macam ya???
gambar tanda tanya…. tipe orang tuh macam-macam ya???

AWAL CERITA

Ini adalah cerita dari seorang kawan yang belum lama ini punya usaha yang lumayan di bidang makanan dan minuman. Usaha itu dirintisnya sendiri melalui bantuan suami dan adiknya. Hingga tahun pertama berjalan, ada tawaran untuk masuk sebagai rekanan penyedia makan siang dan sore di salah satu sekolah menengah yang cukup bagus di kawasan Jakarta Utara. Gayung pun bersambut dan terjalinlah kerjasama itu hingga berlanjut ke sekolah kedua dan seterusnya.

Nah cerita yang kemudian dishare sambil minum teh itu adalah tentang watak atau karakter para orang tua dalam membayar jasa cateringnya itu. Menarik juga sih, bagaimana ibu dua anak ini dengan ba..bi..bu bercerita bahwa karakter orang bisa dilihat dari cara mereka membayar tiap bulannya. Ada yang rutin di awal bulan, tengah bulan hingga akhir bulan. Ada juga yang mesti diingatkan (melalui sms, email, chat dsb), ada yang membayar sukarela (atas kesadaran sendiri tentunya) namun ada juga yang ndablek (di sms/email/telp tetep aja nggak mau bayar hehe…). Nah kategori orang yang terakhir ini menurutnya cuma Tuhan yang tahu.

Sebagai penyedia jasa catering, tentunya ibu muda ini harus menyiapkan modal setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan makan siang dan makan sore siswa-siswi di sekolah itu. Makin banyak yang menjadi peserta/member, tentu makin banyak modal yang disiapkan. Ketika awal pembicaraan dengan pihak sekolah, kerjasama itu berlaku setahun (untuk kemudian dievaluasi dan diperbaharui jika laik). Mekanisme pemesanan, pembayaran dan hal lainnya dengan kebutuhan siswa terhadap makan siang, diserahkan sepenuhnya kepada penyedia jasa catering dengan para orang tua. Sekolah hanya menjadi ‘watchdog’ saja, fasilitator dan tidak masuk kedalam tataran tekhnis. Program pun berjalan. Promosi dilakukan sederhana saja melalui pembuatan brosur pemesanan dan email yang kemudian dibagikan berupa daftar menu perbulannya, tentunya setelah melalui screening dari pihak admin sekolah.

Dari feedback yang diterima hampir 50% para orang tua menyetujui untuk melakukan pembayaran di awal, 30% di tengah bulan dan sisanya bersedia membayar di akhir bulan dan atau di bulan baru berikutnya. Respon ini tentu diterima dengan sangat senang oleh kawan saya ini, menurutnya modal yang harus dipersiapkan tidaklah terlalu besar karena sebagian besar orang tua sanggup membayar di muka. Menurut estimasinya, untuk memenuhi kebutuhan siswa di sekolah ybs, tidak kurang dari Rp. 1juta perharinya. Ini mulai dari bahan pokok lauk pauk, nasi, ongkos kurir, koki dan asisten. Maka jika dikalikan satu minggu sudah 5juta. Dikali 1 bulan Rp. 25jt, dan jika dikalikan dengan 3 sekolah yang ia layani maka total modal yang harus ia siapkan adalah sebesar Rp.75juta. Tentu buat kawan saya ini, yang memilih mundur dari tempatnya bekerja di perusahaan farmasi dulu, uang sebesar 75juta itu bukanlah jumlah yang sedikit. Namun dengan kesediaan pembayaran di muka, maka sedikitnya beban itu terangkat dengan sendirinya.

ayoo pilih yang mana :-)
ayoo pilih yang mana 🙂

KETIKA USAHA BERJALAN

Memasuki bulan ke-3 usaha yang dirintisnya ini berkembang cukup bagus, terbukti dengan makin bertambahnya member siswa dan juga sekolah yang mengajaknya untuk menjadi rekanan. Aktivitas ngeblog dan kongkow yang biasanya saban hari ia lakukan dulu sudah mulai berkurang, maklum saja menurutnya soal rasa harus pas. Walau untuk urusan masak ia serahkan pada juru masak, tapi urusan bumbu, komposisi dan pengepakan harus ia sendiri yang pegang. Maka berjalanlah usaha itu hingga memasuki bulan ke-5. Di usia yang hampir memasuki setangah tahun ini, tingkat disiplin para orang tua mulai kendor. Pembayaran yang pada awalnya cukup lancar kini mulai berangsur berubah. Seperti di bulan ke-4 lalu, ia hanya menerima pembayaran kurang dari 50% saja dari total jumlah member yang ada. Sisanya baru masuk di bulan ke-5. Bahkan hingga ia bercerita padaku pagi tadi, sampai bulan ke-9 ini masih ada orang tua yang menunggak selama 3 bulan. Sejurus cara pun dilakukan, mulai dari upaya mengingatkan secara santun dan halus hingga menelepon laiknya debt collector. Sambil menyeruput teh hangat pagi ini, sobatku ini terlihat rasa kesal dan geram yang tidak implisit lagi. Dari gestures, cara bicara hingga cara nyeruputnya sudah berbeda ketika jam 7 tadi kami bertemu. Kini ia terlihat cukup emosi dengan muka sedikit memerah.

‘Lalu apa yang bisa kubantu teh?’ tanyaku. ‘Ahh sudahlah, kamu dengarkan saja ceritaku’ pintanya.

Masih menurutnya, dari pengalaman berusaha itu ternyata watak orang berbeda-beda. Ada yang sadar akan kewajibannya, ada yang seolah tidak peduli, ada yang masa bodoh bahkan ada yang sekedar ingin selamat tanpa mengindahkan kewajibannya dulu. Karena ceritanya itu (curhat tepatnya) cukup panjang, maka kuringkas saja cerita si Teteh tentang wakat atau karater orang itu menjadi begini :

ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow... kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe
ini sih teori piramida kebutuhan manusia oleh maslow… kok nggak nyambung sih?? ah bisa kok, sambungin aja sendiri hehe..

a. Yang Membayar Tepat Waktu, sesuai dengan kesadaran sendiri (tanpa perlu diingatkan)

Tipe ini adalah tipe orang yang mandiri, jujur dan penuh integritas. Ia sadar akan hak dan kewajibannya. Bisa dikatakan tipe ini menduduki piramida teratas dari golongan orang yang baik. Dalam arti mereka yang selalu berdisiplin, mendahulukan sesuatu tanpa perlu diperintah dan diingatkan. Dalam dirinya seolah ada timer dan pengingat. Dalam konteks dengan anak, tipe ini termasuk kedalam kategori orang tua yang sayang anak. Takut jika anak-anaknya memakan makanan yang haram; belum dibayar (sama dengan mencuri bukan??). Tipe orang tua seperti ini juga amat sangat concern dengan waktu, sebab baginya waktu bisa dikalahkan. Bisa diatur dengan tata kelola yang baik. Setumpuk aktivitas pekerjaan, urusan rumah bahkan arisan sekalipun bisa di urut dan dibuat skala prioritas sehingga kewajiban-kewajiban bulanan bisa tertunaikan.

b. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu tapi dengan kesadaran sendiri

Tipe yang kedua adalah tipe ‘setia menunggu’. Tipe ini adalah tipe dengan kualitas sedikit di bawah tipe pertama. Kesadarannya untuk memenuhi kewajiban tentu harus diapresiasi positif. Namun kelalaiannya terhadap waktu menjadi nilai minus. Tipe ini masih tergolong kedalam orang dengan kualitas jujur dan integritas yang baik. Hanya saja ia sedikit menyepelekan waktu. Mungkin bisa jadi penyebabnya kurang memiliki perencanaan yang baik terhadap waktu, kesibukan yang menggunung dan aktivitas lainnya. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk orang tua yang sayang anak, dan menunda pekerjaan. Jika bisa nanti kenapa harus sekarang, kira-kira begitu motonya.

c. Yang bersedia membayar, tidak tepat waktu dan harus selalu diingatkan

Adapun tipe ini adalah golongan ketiga dari piramida golongan orang baik. Hanya saja ada masalah dengan ingatan. Bisa kodrati atau kurang konsentrasi pada masalah-masalah tertentu. Tipe ini biasanya sering menunda-nunda. Jika muslim, mungkin saja ia suka sembahyang di akhir waktu. Ia bermasalah pada perencanaan, biasanya orangnya eazy going alias let water flow… ya begitu aja deh. Ikut aja arah angin, baru ketika anginnya kencang ia mulai menyiapkan bekal jaket dan payung. Dalam konteks anak, tipe ini termasuk dalam kategori orang tua yang sayang anak, hanya ia membutuhkan pendamping saja untuk selalu mengingatkan 🙂

d. Yang katanya bersedia membayar, tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya. Ternyata ada masalah pribadi

Kata tukul tipe ini adalah ‘shy-shy cat’ ….. malu-malu kucing gimana gitu. Mungkin karena malu atau jaga gengsi atau hal lainnya sehingga tidak berterus terang. Namun setelah 3 bulan kemudian, tiba-tiba ia menunaikan kewajibannya sambil bercerita bahwa ia memiliki financial problem di rumah. Entah ada kasus perceraian, keluar dari pekerjaan, pindah rumah dan lain sebagainya. Tipe ini menduduki kelompok ke-4 dari piramida orang baik, hanya saja ketidakterus terangannya membuat orang menjadi ragu. Dalam konteks anak, ia termasuk tipe orang tua yang sayang anak, hanya saja mungkin situasi dan kondisi membuatnya demikian.

e. Yang katanya bersedia membayar, punya uang (cukup kaya), tapi tidak kunjung jua menunaikan kewajibannya

Aneh tapi nyata, rupanya tipe ini masih dipelihara oleh alam. Dan eksistensinya nyata hehe… Entah apa yang ada di dalam kepala orang bertipe ini, namun yang pasti setelah semua usaha dilakukan; remainder, email, sms, bahkan telp…. jawabannya tampak selalu meyakinkan … tar sok dan tar sok. Padahal dandanannya nyecis, mobil juga baru ganti. Tapi bicara kewajiban, nihil. Mungkin bisa saja ia termasuk orang yang gemar menuntut hak tapi lalai akan kewajiban. Dalam konteks anak, kata si teteh, tipe ini adalah tipe orang tua yang tidak sayang anak. Karena ia membiarkan anaknya memakan makanan yang (maaf) tidak halal. Juga memberikan contoh yang tidak baik, karena seperti berbohong saja ketika ia mengakatan ‘tar sok’. Dalam hirarki piramida orang baik, tipe ini sepertinya tidak laik masuk kedalamnya.

secangkir teh hangat di pagi hari... asseekk
secangkir teh hangat di pagi hari… asseekk

TEH PUN HABIS

Teh yang tadi menemani kami ngobrol pun sudah habis. Pertanda kalau hari beranjak siang. Artinya kami harus menunaikan urusan kami masing-masing. Aku dengan pekerjaanku, dan si teteh dengan usaha cateringnya. Sebelum berpisah aku sempat berbisik ke telinga si teteh…

‘eh Teh, sebenarnya aku juga lagi coba buka usaha catering kayak teteh… mumpung kesempatannya lagi ada teh’ …. kataku. ‘Tapi mudah-mudahan sih orang tua di tempat aku, termasuk kedalam piramida orang baik semua, nggak kayak teteh’ hihihi……

Aku pun bergegas pergi. Dering telp berbunyi, rupanya dari salah satu klien ku. Mungkin ia menanyakan kabar desain profil WO nya yang sedang kukerjakan 3 hari ini. Sementara si Teteh pun sama bergegas menuju mobil avanza nya.

‘Lik… jangan lupa ya keep contact terus’

‘Siap Teh …. ‘ jawabku.

-Karang Tengah, Februari 2014-

MEDIA DAN KETERASINGAN KITA

Posted on

homosapiensManusia adalah Homo Sapiens, makhluk yang selalu ingin tahu. Manusia tidak pernah menerima stimulus secara pasif. Manusia selalu berusaha memberi makna kepada stimulus yang diterima. Manusia selalu terpanggil untuk merumuskan teori yang dapat menjelaskan peristiwa-peristiwa di sekitarnya. Satu peristiwa dapat dijelaskan dengan teori yang bermacam-macam ; bergantung pada latar belakang sosio-psikologis perumusnya.

Media adalah salah satu cara manusia untuk menyampaikan informasi atau peristiwa yang diketahuinya. Media dapat berbentuk apapun, elektronik maupun non elektronik. Yang jelas secara sederhana media untuk pertama kali diperuntukkan bagi jawaban bahwa manusia memang haus pengetahuan dan selalu berusaha untuk mencari tahu. Oleh karena itulah, media-media tertentu khususnya media massa (koran, tv dll) setiap harinya selalu ditunggu-tunggu oleh manusia yang gemar membaca; melihat dan mendengar.

Tapi tahukah kita bahwa ekses media pun dapat berdampak luas. Yudie Latif dalam bukunya “Masa Lalu Yang Membunuh Masa Depan” mengatakan bahwa media tak ubahnya bagaikan Duryudana bagi Karna; kawan setia tapi diam-diam menyesatkan. Seperti kata Ernest Van Den Haag (1968), orang mungkin berpaling pada media massa bila ia kesepian atau bosan. Tetapi sekali media massa menjadi kebiasaan, ia dapat merusak kemampuan memperoleh pengalaman yang  bermakna.

Alienasi_-_Kumpulan_Sajak_Asa_.pdfSemua media massa pada akhirnya mengasingkan orang dari pengalaman personalnya, dan walaupun tampak mengguncangkan, media massa memperluas isolasi moral sehingga mereka terasing dari yang lain, dan realitas diri mereka sendiri. Dengan demikian, media massa menimbulkan depersonalisasi dan dehumanisasi. Media massa sering menampilkan citra lingkungan sosial yang tak sebenarnya, sehingga menipu manusia dan memberikan citra yang bias tentang dunia. Tambahan, menurut Lee Loevinger dalam teori reflective projective-nya, bahwa media massa adalah cermin masyarakat yang menampilkan suatu citra yang ambigu-menimbulkan tafsiran yang bermacam-macam – sehingga pada media massa setiap orang memproyeksikan atau melihat citranya. Media massa mencerminkan khalayak, dan khalayak memproyeksikan citra pada penyajian media.

1385915846885306004_300x241.28686327078Dari batasan ini, maka kita dapat katakan bahwa manusia memang mampu menafsirkan berbagai peristiwa yang di alaminya. Namun penafsiran itu sendiri ditentukan oleh sosio-psikologis sang perumusnya sendiri. Pendapat para ahli di atas mengenai media juga didasarkan pada pengalaman dan penelitian yang mereka lakukan. Sehingga data yang mereka sajikan juga mungkin tidak terlalu salah. Maka dalam hal ini, untuk mencermati media kita perlu memperhatikan dua ekses yang akan dimunculkannya, yaitu ekses negatif dan positifnya.

Apa yang kita harapkan tentunya, bukanlah ekses negatif media massa untuk kita. Namun sebaliknya yang kita harapkan adalah ekses yang positif dari media massa itu untuk kita[]

Depok, Februari 2014

Saat ini … bukan 7 tahun lalu

Posted on

IMG_20140220_093529
Kue sederhana untuk Kakak sebagai penanda Milad mu yang ke-7. Disaksikan teman-teman kakak di dalam kelas juga hehe…

Waktu terus berjalan, detik demi detik hingga tahun ke tahun. Ketika prosesi kelahiranmu dulu kusaksikan, dengan menggenggam kamera video recorder di ruangan bersalin itu, tangismu begitu memekik. Mulutmu begitu lebar, sekujur tubuhmu dilumuri cairan, kental dan berwarna sedikit merah. Ohh… tak ada ungkapan lain yang bisa kulakukan selain syukur yang mendalam pada Tuhan.

Dan waktu pun berlalu, 1 tahun pasca persalinan itu kita melaluinya dengan penuh perjuangan. Mungkin engkau tak ingat bagaimana kita pulang larut malam naik vespa, karena ada yang harus kukerjakan di toko. Saat itu aku masih berkuliah sembari membuka toko dalam bidang graphis dan multimedia di jatinangor. Tahun kedua, perayaan Ultah dilakukan di kediaman Nenekmu di Jakarta. Saat itu perayaan dilakukan secara meriah, maklum saja subsidi di tahun kedua itu masih ada. Dan Nenekmu menjadi satu diantara sekian orang subsider Ultahmu kala itu, disamping orang tuaku di Bandung hehe…

IMG_20140220_094149
suasana perayaan yang sederhana di kelas. kakak mendapatkan pelukan dari teman-teman dan ucapan selamat sebelum pemotongan kue

Tahun ke-3 kali ini berdikari. Aku dan Ibumu yang melakukannya. Bahkan bisa dibilang lebih meriah jika dibanding tahun ke-2 mu. Tak kurang dari 100 undangan hadir, anak-anak komplek dan anak-anak kampung tetangga Mpok Warmah yang saat itu menjagaimu setiap hari. Beberapa keluarga juga turut hadir, yang dari Depok dan Bekasi. Sementara Om dan Nenek dari Bandung tak kalah sibuk membantu menyiapkan dekorasi, nasi tumpeng dan goody bag yang kemudian akan dibagikan sebagai kenang-kenangan.

Tahun ke-4 rasanya datar saja. Karena di tahun itu engkau sudah mulai beranjak anak-anak, rasanya tidak terlalu perlu pula perayaan seperti dulu. Disamping itu kebutuhanmu juga semakin banyak. Alangkah bijaknya jika budget yang ada dialihkan untuk hal lain yang lebih penting, seperti persiapan kelahiran Adikmu, Kakaknya Ade Fathir yang kemudian takdir merenggutnya dari kita. Jasad, atau lebih tepatnya daging dengan sedikit struktur tulang didalamnya Aku kuburkan tepat di halaman rumah di Pancoran Mas.

Tahun ke-5 adalah tahun getir dalam usiamu. Kali itu aku ingat betul Ultahmu dilakukan dengan amat sangat sederhana. Itupun dengan sabar kita menunggu Ibumu pulang karena letak rumah kita yang begitu jauh dari Sekolah. Ini memang keputusan Aku. Setelah insiden keributan yang kerapkali dialami, budaya keluarga yang bagiku salah, prilaku mistiknya, kekasarannya hingga hilangnya rasa malu dalam dirinya, membuatku muntah dan segera saja untuk menjauh dari keluarga Ibumu, terutama kakekmu itu. Dengan bekal 3 buah gerobak franchise Teh Poci yang di 2 tahun sebelumnya kujadikan lahan usaha sampingan aku dan ibumu, akhirnya kita menyepi dan menjauh menuju Kabupaten Bogor. Semua dibangun dari Nol lagi, perkawanan, sekolahmu hingga usaha yang sudah kujalani 3 tahun selepas keluar dari tempat kerjaku di tahun 2009 dulu (www.rumahchantik.multiply.com).

IMG_20140220_094115
Kakak menjelang peniupan lilin. Excited banget dia hehe…

Kini tepat di tanggal perayaanmu yang ke-7, semua mulai membaik. Tuhan rupanya masih menuntun dan mengarahkan kita dengan benar dalam bingkai kebersamaan yang utuh. Pernah terbesit memang untuk pergi saja… tapi setelah kusadari lagi, tiada guna. Cukup aku saja yang terlahir dari produk perceraian Orang Tua. Engkau dan Adikmu tidak. Sesulit apapun itu, semua harus dijalani bukan. Tahun ini aku kembali mendaftarkan alih nilaiku. Hasil studi dulu di Jatinangor selama 2.5 tahun rasanya sayang jika menguap begitu saja. Maka tahun ini pula aku ingin persembahan terindah berupa kelulusanku dalam bidang Ilmu Sosial dan Politik. Ilmu lain berupa komputer yang juga dulu kuikuti di STMIK selama 3 tahun dan multimedia (otodidak) biar saja menjadi sandaran sementara untuk mencari rezeki. Dan  usaha sampingan lainnya yang selama 1 tahun belakang ini kurintis, baik dalam bidang kuliner (makanan dan minuman) juga bidang lainnya. Semoga semua bermuara pada arah yang lebih baik. Amiin

crop
Kami bertiga di depan kelas 1 Merapi. Bu guru yang motret nih 🙂

Happy Birthday Kaka…. peluk cium dan sayang untukmu 🙂

Seri Pekerjaan ; Membuat Brosur Yang Menarik

Posted on

Pekerjaan yang biasanya begitu menyita waktu, akhir-akhir ini mulai bisa disiasati dengan cara memilah urutan; yang bisa didahulukan dan atau bisa dikerjakan kemudian. Dahulu semua jenis pekerjaan yang saya miliki selalu masuk ke kategori kedua; bisa dikerjakan kemudian. Wal hal pada saatnya klien meminta diselesaikan, pekerjaan-pekerjaan itu menumpuk dan membuatku kelimpungan. Stress, tentu saja. Apalagi jika permintaan itu harus dipenuhi bersamaan.

Begitulah kita, menunda-nunda sesuatu yang semestinya bisa dikerjakan pada saat penugasan itu diberikan. Namun bukan berarti harus terjatuh ke lubang yang sama dua kali khan??? Belajar mendahulukan kegiatan yang penting, ternyata tidaklah sesulit yang dibayangkan. Kemauan yang kuat untuk memulai, catatan yang dibuat runut dan penciptaan kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan… adalah 3 hal yang turut mempermudah melakukan sesuatu. Pun demikian dengan aktivitas lainnya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan sekalipun.

Plong rasanya jika semua bisa ditunaikan secara baik, dan sesuai dengan target waktu yang diberikan. Berikut ini adalah dua pekerjaan yang saya lakukan sesuai dengan waktu nya :

Brosur Party Celebration Organizer

 

dan juga yang ini

brosur PCO 2014

Manual Book Menjadi Manusia Dewasa (Ortu)

Posted on

Well …. tidak cukup dengan pendidikan di bangku formal saja untuk menjadi orang tua. Pengetahuan dan mental juga memegang peran cukup penting. Bukan sesuatu yang sulit, tapi juga bukan perkara mudah menjadi orang tua yang baik buat anak-anak. Yang kita bicarakan disini adalah tubuh dan jiwa dalam bentuk manusia, yang dinamis, memiliki keinginan, pikiran yang tak berbatas sekaligus emosi. Anak-anak dengan sejuta kelucuan dan semilyar tindak-tanduknya tentu membutuhkan penanganan yang tepat. Jika dalam penggunaan Handphone saja disertakan ‘manual book’ tentang cara operasinya, apalagi dengan anak-anak. Namun sayang seribu sayang, manual book itu tidak bisa didapatkan dengan hanya berdiam diri. Pendidikan formal yang didapat pun semasa kita SD sampai Kuliah jarang ada Mata Kuliah tentang bagaimana berperan dan menjadi orang tua yang tepat dan baik untuk anak-anak.

imagesMaka ini adalah tantangan yang mesti dijawab oleh manusia dewasa. Sejauh mana ia mampu dan siap membawa anak-anaknya menuju gerbang kehidupan yang maha luas itu. Tentang bagaimana ia menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang kelak. Proses interaksi dalam keluarga tentu menjadi kunci. Komunikasi menjadi jembatan apa-apa yang diinginkan oleh masing-masing anggota keluarga sehingga tujuan bersama bisa tercapai. Kita (sebagai manusia dewasa; orang tua) wajib membuka diri, memperluas wawasan sekaligus mengasah emosi terhadap kepekaan diri kita. Anak-anak adalah produk diri kita sekaligus produk kebudayaan yang mengitarinya. Dua hal ini menjadi embrio kepribadian yang akan membuatnya menjadi manusia seutuhnya kelak. Gambarannya tentu harus dicanangkan sejak dini. Minimal imaji, seperti visi yang dapat memandu kita.

Ia ada karena kita. Tuhan menyempurnakannya melalui proses kelahiran dari rahim sang Ibu, istri. Cinta adalah pengikat kebersamaan. Riak dan kerikil apapun yang akan dilaluinya kemudian, adalah bumbu-bumbu kehidupan. Mungkin penguji akan cinta sebagai ikatan itu.

Tidak seperti Ujian Nasional yang hanya dinilai di penghujung masa studi, maka keberhasilan bersama itu mesti dilalui melalui sebuah proses yang baik. Tahap demi tahap, hari demi hari hingga tak terasa kita menjadi tua, kakek dan nenek. Tentu kita membayangkan ketika masa itu datang kehidupan bersama itu tetap terjaga dengan baik, harmonis, sejahtera dalam bingkai memberi dan menerima.

Namun kelak, semua bisa berubah suram kelak. Jika tidak dititi dengan baik tangga demi tangga dari sekarang saat ini. Maka mari melakukannya mulai saat ini

*untuk buah hati kami yang tengah bertumbuh. jadikan kami orang tua yang baik ya Nak untuk kalian…. selalu belajar, mengoreksi diri, berbuat yang terbaik dan senantiasa berupaya mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan kalian. Amiin

Jagoan yang selalu tidur larut malam

Posted on

ini-akibatnya-jika-suka-tidur-di-atas-jam-12-malamJika kita orang dewasa tertidur lepas larut malam bahkan mungkin mendekati sepertiga malam (shubuh) mungkin saja wajar. Aktivitas pekerjaan, pikiran dan lain sebagainya menjadi pembenar kita untuk tidur selarut itu. Walau pada umumnya orang tertidur antara Pukul 21 sd 23 malam, namun sebagian yang lain ada yang baru bisa terlelap lewat dari tengah malam.

Kebiasaan tidur malam atau larut malam, tentu akan memengaruhi aktivitas keesokan harinya. Jika waktu bangun normal adalah sekitar pukul 5 sd 6 pagi, maka orang dengan kebiasaan tidur larut bisa jadi baru terbangun sekitar pukul 10 – 11 siang. Lalu apa yang terjadi jika orang dengan kebiasaan tidur larut malam harus bangun pukul 5 atau 6 pagi? Hampir bisa dipastikan badannya tidak fit, kadang gangguan pencernaan dan jika dipaksakan bekerja maka akan selalu mengantuk di siang hari. Nah jika pada orang dewasa saja bisa demikian, lalu bagaimana dengan anak-anak Balita??????

FMP (Fa …. Muhammad Putra)

saat mengantar kelulusan kakaknya diwisuda TK
Fathir saat mengantar kelulusan kakaknya diwisuda TK

Aku punya jagoan dirumah, usianya hampir tiga tahun bulan Maret nanti. Ketika lahir ia kuberi Nama Rizky. Yah saat itu aku merasa ia hadir seiring dengan rezeki pemberian Tuhan. Namun ibunya menginginkan nama lain. Lantas aku pun berpikir kenapa tidak dengan nama depan yang sama dengan kakaknya ya???? Sang Kakak yang kini sudah bersekolah kelas 1, memiliki nama depan dengan hurup/suku kata ‘Fa’. Maka kemudian kucari lewat buku dan internet nama apa yang pantas untuk anak laki-laki berawalan dari suku kata ‘Fa’. Lalu muncullah nama itu, dan kami pun berdua sepakat menamainya Fathir, yang berarti kemenangan/berkuasa. Konon kata itu diambil dari dasar kata ‘futh’ yang memiliki makna kemenangan.

Lalu mengapa kemudian memakai Muhammad dan Putra ?

Saat mengantar kakaknya mengikuti lomba mewarnai di CInere Mall
Saat mengantar kakaknya mengikuti lomba mewarnai di CInere Mall

Sedari awal saya cenderung tidak setuju jika seseorang memakai nama Muhammad, apalagi dengan nama depan. Entahlah rasanya terlalu adi luhung. Lalu mengapa nama itu dipilih??? Rupanya ini hanyalah hasil kompromi, antara orang tua, kakek dan kerabat lainnya. Maklum orang timur itu selalu ingin memakai etika dalam tindak tanduknya. Maka untuk menghormati ibu mertua saya, Nama Muhammad pun dipilih. Namun dengan catatan, saya tidak ingin nama itu menjadi nama depan.

Lalu Putra sendiri adalah pilihan saya. Hal ini jelas, ia adalah sang jagoan, lelaki. Maka kupilih nama itu sendiri untuknya ‘Putra’…. yup benar, putraku. Maka lengkaplah namanya Fathir Rizky Putra Mulyadi…… eiittss salah, di akta tercatat Fathir Muhammad Putra… yups seperti aku bilang, ini kompromi. Maka nama itulah yang kemudian tertulis di Akta Kelahirannya.

“Semoga Nama yang kami berikan untukmu menjadi doa ya Nak “

Kebiasaan Tidur Lebih dari Jam 1 Malam

Sekira setengah tahun yang lalu, ketika saya mulai memiliki kesibukan lain di luar rumah dan mengharuskan untuk pulang ke rumah lebih dari jam 7 malam (juga ibu dan kakaknya yang bersekolah di Jakarta Selatan) si Jagoan ini selalu tidur larut malam. Bahkan sudah sebulan ini tidur mendekati pukul 4 shubuh. Biasanya ia sibuk sendiri dengan mengumpulkan bantal, boneka dan selimut ke depan TV. Setelah itu meminta susu lalu mengambil mainan dan atau sekedar bolak-balik ke kamar meminta mainan ‘dada’ ibunya (u know apa lah itu maksudnya).

Ini dilakukan hampir berulang. Terkadang ia juga mengajakku bermain, Jika tak lelah biasanya kuladeni juga, seperti tadi malam kami bermain tiup-tiupan dan membaca di atas meja kecil kakaknya. Tapi biasanya aku atau ibunya menyerah juga akhirnya, paling kuat 1 jam saja. Setelah itu kami tertidur pulas. Lalu bagaimana dengan ia??? Ya begitu itu …. bolak balik dan akhirnya menonton tv. Biasanya timmy times, elmo, dan sebagainya di channel disney junior dan MNC Kids.

Setelah sekian lama berlangsung, baru tadi pagi ibunya sewot berat. Dan kami ber’argue’ kecil di dalam perjalanan. Intinya dia harus dibawa ke dokter. Tapi nanti dulu, apa yang mau dibawa ke dokter!!! Karena saya pikir masalah si Jadoan hanya terletak pada pola tidur, sementara dari sisi pisik atau biologis normal saja. Ia ceria dan sehat. Menurut mba yang menjaganya, ia biasa terbangun pukul 11 siang. Maka jika dirata-ratakan ia tidur pukul  3 pagi toh sudah mencukupi kebutuhan minimal anak-anak untuk tidur dan beristirahat. Pertengkaran ini seperti biasa tidak berujung, hanya waktu yang kemudian memisahkan karena si ibu tiba di tempatnya bekerja.

Rasa penasaran tentang masalah tidur ini ingin kupecahkan saja. Maka aku browsing sana-sani, dan kudapati beberapa artikel menarik tentang masalah Balita yang suka tertidur larut malam begini. Berikut adalah kutipannya, semoga anda yang mengalami masalah yang sama dengan si kecil ikut terbantu ya 🙂

Kami bertiga saat menghadiri acara pernikahan teman (yang memotret adalah si Kakak)
Kami bertiga saat menghadiri acara pernikahan teman (yang memotret adalah si Kakak)

KENALI 4 PENYEBAB UTAMA SI KECIL TIDUR LARUT MALAM

Bila energinya si anak masih berlebih, lalu dia ingin bermain ya dia akan bermain, tak peduli hari sudah larut malam atau belum.Lebih bijaksana jika orang tua merunut penyebab mengapa si batita terbiasa beraktivitas hingga larut malam. karena kondisi seperti ini tidak datang dengan tiba-tiba, melainkan ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya:

* pola tidur orang tua
Pola tidur orang tua dapat mempengaruhi pola tidur anak. Bila orang tua terbiasa tidur larut malam, anak pun akan terkondisikan seperti itu.
tindak lanjut:
Ubah jam tidur anak. Jika si kecil menolak tidur karena orang tua belum tidur atau salah satu belum pulang, maka berusahalah untuk mengondisikannya tidur di jam-jam yang wajar. Umpamanya dengan mengajak si kecil masuk kamar dan membuat kondisi dalam kamar begitu tenang. Matikan teve, lampu, musik yang berirama cepat, dan sebagainya.
* faktor bawaan
Ada anak yang semenjak bayi memang sulit tidur malam. Jika masalah ini tidak ditangani segera, ditambah dengan ketidakdisiplinan orang tua akan jam tidurnya, maka kebiasaan ini akan terus berlanjut.
tindak lanjut:
Cari tahu apakah yang menyebabkan anak sulit tidur malam. Mungkinkah karena asupan makanannya kurang. Bila orang tua tidak memiliki kepastian penyebab mengapa si kecil selalu tidur larut, tak ada salahnya orang tua memeriksakan anak ke dokter.
* belum terbentuknya jam biologis
Jam biologis anak batita belumlah teratur. Si kecil bisa saja bangun jam 5 pagi, lalu jam 10 tertidur kembali. Namun esoknya belum tentu ritmenya seperti itu. Bisa jadi ia bangun jam 5 pagi dan baru tidur jam 4 sore
tindak lanjut:
Ciptakan jam biologis si kecil dengan mengubah dan mengoreksi pola tidurnya. Misalnya dengan mengondisikan anak untuk lebih banyak beraktivitas di siang dan sore hari. Atur jam makan terakhirnya sekitar jam 6 atau jam 7 malam. Anak yang lelah secara fisik dan juga merasa kenyang akan tidur nyenyak di malam harinya.
* menuntut perhatian orang tua
Adakalanya orang tua harus bekerja hingga larut malam sehingga waktu pertemuan dengan si kecil menjadi sempit. Hal ini membuat kebutuhan si kecil akan perhatian orang tua jadi tidak terpuaskan. Ujung-ujungnya, ia sering mencari-cari perhatian misalnya ya dengan menunggu orang tuanya tiba dari kantor lalu langsung mengajak bermain. Tak peduli jam berapa pun itu.
tindak lanjut:
Lakukan refleksi diri apakah waktu kebersamaan dengan si kecil sudah tercukupi atau belum. Seringkali orang tua menyadari si kecil butuh perhatian tapi tidak berusaha menyelesaikan permasalahan. Akibatnya hal ini berlangsung berlarut-larut sampai membuat pola tidur anak tidak sesuai dengan waktu tidur orang tuanya. Kalau sudah begini, mau tak mau orang tua mesti mengatur kembali waktu luang bersama anaknya.

SIKAPI DENGAN TEPAT
Nah, jika sudah ditemukan akar permasalahannya, berikut ini ada beberapa tindakan konkret yang bisa dilakukan orang tua saat si kecil merengek mengajak bermain di malam hari:

* Hindari aktivitas yang membangkitkan semangat.
Aktivitas fisik, seperti main kuda-kudaan akan membuat anak makin bersemangat untuk melek. Lebih baik pilih aktivitas yang lebih tenang, seperti membacakan atau mendongengkan si kecil sebuah cerita. Hindari cerita yang rumit karena akan membuat otak si kecil bekerja mengolah cerita tersebut. Pilihlah bacaan ringan dan cenderung monoton. Misalnya, “Di malam hari si kelinci tidur, sang ayam tidur, si kuda tidur, dan seterusnya.” Cerita yang monoton akan membuat anak merasa bosan dan lama-lama membuatnya tertidur.
* Beri penjelasan.
Jelaskan selalu bahwa hari sudah malam dan semua orang harus tidur. “Sebenarnya, ini sudah malam lo, Dek. Waktunya untuk tidur. Coba lihat di jalanan sudah enggak ada orang lewat kan?”
Bisa juga dengan memanfaatkan sosok hewan peliharaan, “Kalau malam kucing harus bobok, ayam juga bobok. Semuanya harus bobok. Adek juga harus bobok.” Biasanya pemahaman seperti itu membuat si kecil mau berangkat tidur.
* Tanamkan sugesti.
Bila anak belum juga mau tidur dan tetap ingin bermain, maka kita bisa melakukan sugesti terhadap anak, “Tidur yuk! Adek sudah ngantuk kan?” Jika si batita sudah lancar bicara, biasanya ia akan berperilaku negativistik dengan menjawab, “Enggak mau, enggak ngantuk.” Langkah yang bisa diambil adalah dengan mencari jalan tengah. Umpamanya, “Adek boleh bermain robot, tapi sebentar saja ya. Setelah itu, bobok.” Beri rentang sekitar 10 menit, lalu ajak ia tidur kembali.
* Ciptakan suasana kondusif.
Jika penjelasan dan sugesti tak mempan dan si kecil tetap menolak tidur, orang tua bisa berkata, “Kalau Adek enggak mau bobok ya sudah. Tapi ini sudah malam dan waktunya untuk bobok. Ayah dan Bunda mau bobok duluan. Jadi lampunya dimatikan ya.” Selanjutnya padamkan lampu tapi sebelum itu pastikan tidak ada barang di kamar yang dapat mencelakakan anak. Keadaan kamar yang digelapkan merupakan suasana kondusif untuk berangkat tidur. Biasanya dengan begitu anak akhirnya akan memutuskan tidur juga. (disarikan dari tulisan dr purwaningrum)

[bersambung]

Uwak Oto dan 40 years of silence an indonesian tragedy

Posted on Updated on

40Years-FB_Cover_Photos-Degung-300x111Setelah sebelumnya menonton Jagal karya dokumenter dari Joshua Oppenheimer, tentang Anwar Congo eks pelaku genosida di Sumatera (yang juga tokoh PP disana), lalu jauh di tahun sebelumnya Shadow Play, masih film bergenre dokumenter juga, kali ini tentang bagaimana tragedi 65 terjadi dan hubungannya dengan kuasa Barat (CIA). Maka pagi tadi saya menyempatkan menonton ’40 years of silence an indonesian tragedy’ yang lebih menekankan pada pengalaman korban yang masih selamat beserta kisah hidupnya dan bagaimana kondisi kejiwaan mereka hingga kini.

Membaca (atau menonton tepatnya) bagaimana peristiwa itu bisa terjadi jauh puluhan tahun lalu, di negara ini, negara tempat kita hidup kini, seakan-akan ada tanda tanya besar, mungkinkah??? Betapa mengerikan sekali, sungguh nyawa menjadi begitu murah. Saudara sendiri, tetangga, orang yang kita kenal tiba-tiba menjadi musuh dan laik dihukum karena karena label atau pen’cap’an yang berbeda.

Putaran Sejarah

timthumb.phpSejarah yang selama ini dipercayai sebagai kebenaran ternyata amat mungkin dibalikkan, direkayasa untuk kepentingan tertentu. 3 film dokumenter di atas adalah bunyi sejarah lain yang muncul dari sejarah dominan yang mungkin selama era pra reformasi dijadikan kebenaran tunggal. Wajah lain sejarah itu ternyata menampar muka kita sendiri, bagaimana konflik itu terjadi dan bagaimana hal itu dilakukan oleh teman sebangsa sendiri.

Dan mungkin baru kemudian saya bisa sadari bagaimana hal ini juga menimpa salah satu kerabat saya sendiri, tepatnya dari keluarga Mamah. Diantara sekian jumlah saudara Mamah, ada satu orang Kakak Mamah yang tinggal di pegunungan dan jauh dari khalayak. Saat itu hanya pikiran polos saya saja yang memercayai bahwa Uwak saya itu memang gemar bertani dan menyendiri. Rupanya ada hal lain yang turut mewarnai latar belakang keluarga besar Mamah untuk kemudian mengasingkan dan menyimpannya nun jauh di pegunungan.

Apalagi kalau bukan dugaan (atau mungkin kebenaran) keterkaitannya dengan PKI. Rupanya hal ini yang membuatnya terasing/diasingkan bahkan kemudian saya mengetahui bagaimana anak dan istrinya pergi meninggalkan dia begitu saja. HIngga ajal menjemputnya di penghujung tahun 1999 hanya keluarga terdekat saja yang menemani. Saat itu usia saya belum genap 15 tahun hingga belum begitu mengerti ada apa.

512Sekarang mungkin saya bisa memaklumi, bahwa ada ketakutan besar dari saudara yang lain jika Uwak saya ini tertangkap dan kemudian dieksekusi mati atau menjalani hukuman sebagai TAPOL. Terlepas dari benar atau tidaknya dia terlibat dengan PKI (yang ketika saya tanyakan kepada saudara yang lain dijawab ambigu dan kabur). Yang pasti separuh hidupnya ia jalani terasing, jauh dari keramaian, tidak ada satupun keluarga yang menemani, termasuk anak dan sang istri. Dahulu ketika keluarga besar Mamah masih lengkap, hanya hari-hari besar saja kami berkumpul dan mengunjungi beliau sambil membawakan makanan kota.

Andai saja ia bisa hidup lama pasca reformasi, mungkin sedikitnya ia bisa merasakan kebebasan. Dimana pandangan masyarakat perlahan sudah mulai berubah dan terbuka. Sejarah pun kini bisa di kritik, dipertanyakan dan tidak tunggal. Masih dimungkinkan muncul kebenaran sejarah yang lain dalam versi yang berbeda. Uwak Oto (demikian biasanya saya panggil beliau di gubuknya itu) adalah satu dari sekian ribu orang lainnya yang menjalani separuh hidupnya dengan ketakutan, stigma negatif bahkan cibiran laiknya binatang. Sayang memang ia telah mendahului kami, pun demikian terlambat pula bagi saya untuk mengorek lebih jauh bagaimana kisah hidupnya dulu, tentang pekerjaannya (yang kata Mamah sebagai perwira AL), lalu anak-anaknya yang hilang bak ditelan bumi, hingga keputusannya menerima hasil musyawarah keluarga untuk mengasingkannya di atas gunung, jauh dari keramaian, jauh dari keluarga dan jauh dari kegiatan yang biasa ia lakukan dalam keadaan normal.

makam k nurizalJika ia masih hidup, mungkin bisa ia ceritakan pengalamannya itu padaku. Sama seperti dalam film 40 years of silence an indonesian tragedy di atas, dimana Pak Kareta, Lanny, Degung dll yang secara runut menjelaskan pada sang pewawancara. Hanya makam bisu saja kini yang menandai namamu, Uwak. Nun jauh disana, di Majalaya []

Broncopneunomia, Bahaya atau Biasa saja ??

Posted on

Iseng-iseng saya membaca tautan yang dikirim salah seorang teman di FB. Dan setelah baca isinya… wow cukup tersentuh dan haru… ada sih sedikit air mata yang keluar hehe… ini linknya .. http://fikihfikih.blogspot.com/2012/06/surat-terakhir-buat-kaka.html

398px-BronchopneumoniaSetelah itu saya lalu browsing tentang gejala dan tatalaksananya. Maklum saja istilah Broncopneunomia, walau tidak asing tapi pengetahuan saya tentang hal ini tidak lah banyak. Maka beberapa literatur dan juga sekedar tulisan blog saya dapatkan. Mulai dari pengertian, jenis, lalu gejala dan penyebabnya. [bersambung …]