Seni Atau Bahasa ya … ???

Posted on Updated on

English_First “maafin Ayah ya Ka .. belum jadi Ayah yang sempurna buat Kaka. Banyak keinginan kaka yang belum bisa diwujudkan”

Begitu saja kata-kata itu keluar dari mulutku. Saat itu hari Sabtu, siang tepatnya. Hari-hari biasa di waktu yang sama biasanya kami berada di luar rumah, hanya weekend saja seperti kemarin kami bisa bercanda dan melakukan banyak hal di rumah. Entah kenapa di tempat tidur itu aku terbesit hal itu, hingga aku utarakan padanya.

“Ayah.. Kaka seneng kok punya Ayah dan Ibu seperti sekarang. Walo kata ayah nggak sempurna, tapi Ka bersyukur masih punya orang tua, coba klo Ka nggak punya. Kan sedih banget Yah …..”

Jawaban polos itu keluar begitu saja tanpa saya duga sebelumnya. Mulutnya sih masih bau ‘jigong’ karena baru bangun tidur, tapi isinya sangat … sangat membuatku tertegun, heran sekaligus bersyukur. Tak menyangka saja kata-kata itu keluar dari mulut Anak Gadis berusia kurang dari 7 tahun atau kelas 1 SD… huuhh….

Hari ini seperti biasa ia bersekolah. Jadwal rutin yang harus ia laluli setiap hari dengan menempuh perjalanan selama lebih dari 1 jam dari rumah. Letak rumah kami memang cukup jauh, tapi memang untuk saat ini, Sekolah ini lah yang terbaik untuknya. Disamping sekolah ini adalah tempat ibu nya mengajar, namun memang dari sisi pembelajaran, kualitas, dan seterusnya bisa dikatakan lebih baik dari Sekolah-sekolah Negeri pada umumnya. Bisa saja sih kami sekolahkan ia di Sekolah dekat rumah, namun rasanya kurang lengkap jika ia yang lucu dan dulu kehadirannya sangat kami tunggu itu bersekolah di tempat biasa. Khawatir saja bakatnya tidak terasah, belum lagi lingkup sosial dan pendidikan sekitar yang bisa turut memengaruhi perkembangan pribadi dan sosialnya. Maklum saja waktu bersua kami adalah di waktu sore dan malam, sehingga tak mungkin waktu yang sempit itu cukup untuk membentuk dan mengajarkannya kebaikan seperti yang diinginkan. Maka sekolah ini adalah sekolah terbaik untuknya, disamping kami yakin akan cara pembelajarannya juga sang ibu ibunya bisa turut melihat dan memantaunya selagi bekerja mengajar kelas 3.

Kami berangkat dari rumah jam 6 kurang biasanya, atau lewat sedikit. Jika jalanan lengang Pukul 07.30 tiba di sekolah, karena dalam perjalanan harus menjemput dua siswa lainnya yang ikut dengan mobil kami ke sekolah. Sehingga waktu 1 jam harus ditambah 30 menit lagi. Waktu tempuh perjalanan yang lumayan panjang, biasanya kaka habiskan dengan tidur di jok belakang. Kami pun sigap menyiapkan bantal dan keperluan lainnya selama di perjalanan, mulai dari Susu, sereal atau makanan lainnya untuk sarapan. Tak lebih dari 15 menit meninggalkan rumah, ia tertidur pulas di belakang.

art-is-lifeHari ini masih sama seperti hari yang lain, berjalan biasa hanya cuaca saja yang berbeda. Jika seminggu kemarin hujan hampir turun setiap hari maka hari ini cuaca cukup cerah. Selepas mengantar Kaka dan Ibunya kesekolah, juga dua orang kawannya yang ikut dengan kami, saya susuri jalan sepanjang Bona Indah Cinere. Pelan saja sih, sambil menikmati udara pagi dan jalanan yang cukup lengang pagi ini. Terpampang papan reklame menawarkan banyak hal, mulai dari jasa, perbankan, pendidikan hingga photo nggak penting dari para caleg. Diantara sekian banyak reklame, ada dua spanduk yang menarik perhatian saya; global art, dan english firts. Jauh hari memang saya dan istri sempat berdiskusi tentang hal ini, yaitu rencana memasukkan les Kaka di sela-sela waktu sekolahnya. Kami sepakat bahwa ada waktu senggang ia yang terbuang percuma di sekolah, yaitu waktu diantara pulang sekolah dan waktu kujemput pulang kerumah. Ada jarak 3 jam lebih, khususnya di hari Senin, Kemis dan Jumat. Untuk hari Selasa dan Rabu ada eskul tambahan; Seni Tari dan english club, sehingga waktu tunggu sampai kujemput hanya sekitar 40 sd 1 jam. Tapi di luar hari itu… rasanya sayang kalau cuma menunggu di sekolah.

Maka kami bersepakat untuk menyisihkan hasil pendapatan kami; diluar kebutuhan pokok tentunya, untuk memasukan ia ke tempat les. Dua pilihan yang kami rasa tepat untuknya, Seni dan Bahasa. Sempat juga untuk musik, tapi mengingat alat musik tidaklah murah, maka kami baru siap memasukkannya ke les musik di kelas 2 nanti. Maklum saja di tahun ini kami berencana ingin mencicil mobil… ya untuk keperluan operasional juga termasuk untuk kelancaran usaha catering kami. Mudah-mudahan target itu tercapai. Amiin

Back to topic, Bahasa atau Seni adalah dua skill yang saya rasa bisa diasah sedari dini. Atau mungkin dimunculkan sejak masih anak-anak. Keseimbangan kerja antara otak kanan dan kiri menjadi pertimbangan utama dalam perkembangan manusia. Sudah bukan jamannya lagi kerja berat berada di otak kiri, seperti masa kita dahulu. Maka kemampuan lain diluar akademik sekolah, menjadi nilai tambah anak-anak masa kini. Bukan berarti membebani mereka dengan setumpuk kegiatan (tak perlu) namun menyalurkan hasrat, aktivitas dan curiousity anak-anak yang besar menuju kegiatan yang positif. Karena di masa-masa usia inilah mereka mampu menyerap segala macam hal, baik itu yang baik maupun yang buruk.

Kini diantara waktu 3 hari itu yang tersisa buat Kaka, pilihannya hanya dua, les dalam bidang seni atau bahasa (english). Mudah-mudahan di awal Februari nanti kami sudah bisa memutuskan yang terbaik buatnya, dan ia enjoy menjalaninya. Semoga aja 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s