Month: January 2014

Senengnya Tulisanku dijadiin Referensi Daftar Pustaka

Posted on

Daftar PustakaMungkin sudah lupa kapan tepatnya tulisan ini di buat dan dalam suasana apa ketika itu. Yang jelas judulnya “Tanggung Jawab dalam Pendidikan”. Syahdan, tulisan ini menyabet Juara II Kategori Essei Terbaik pada Pameran Pendidikan, dan Teknologi Anak yang diselenggarakan di Graha Manggala Siliwangi tahun 2009.

Emm… mungkin saat galau ketika itu. Jika diterawang tahun itu adalah tahun dimana kondisi saya kurang baik. Penuh masalah, dipanggil beberapa kali menghadap Kepala Sekolah, ga kerasan di rumah dan lain sebagainya. Mungkin seperti kata pepatah, dibalik masalah ada hikmah tersembunyi. Dan disadari atau tidak, medio tahun 2007 sd 2012 adalah masa produktif saya menulis, dan beberapa diantaranya menerima honor karena dimuat media cetak hehhe… (bangga banget ya saya hihhi )

KEBERHASILAN ITU … ??

Posted on

Siapa coba yang dalam hidupnya tidak ingin berhasil ? Tentu jawabannya semua orang kepingin !!! Gagal, ahh… rasanya tidak ada yang mau kata itu hinggap dalam hidupnya. Lalu apa itu keberhasilan. .. mungkinkah definisi keberhasilan aku dan kamu itu berbeda.

successKeberhasilan dari ragam teori

Dalam prinsip komunikasi keberhasilan diartikan sebagai umpan balik. Artinya komunikasi yang dilakukan oleh komunikator (istilah komunikan merujuk pada pengertian peserta komunikasi, yang meliputi komunikator – yang berbicara – dan komunikate, yang mendengarkan) dinilai berhasil jika efektif mempengaruhi prilaku komunikate, dan atau komunikate telah mengalami proses decoding, penyandian balik berupa umpan balik dirinya bagi sang komunikator. Indicator keberhasilan ini terlihat misalnya; Saya menulis (komunikator), kamu membaca sampai selesai (komunikate) lantas kamu menilai ada yang salah dalam tulisan ini. Tak lama kemudian kamu mengangkat telp. Dan mengatakan bahwa tulisan saya ini keliru (terjadi umpan balik).

Konsep keberhasilan ini akan berbeda halnya jika sudah dimasukkan kedalam istilah empirisme alam (katakan fisika misalnya). Suatu teori baru dinyatakan valid, jika sudah dapat dibuktikan dengan proses pengindraan (empiric). Artinya konsep apapun baru dipandang sebatas hipotesis jika belum dibuktikan secara nyata. Jika terbukti benar maka hal itu adalah berhasil. Demikian pula jika kita berbicara tentang arti keberhasilan-keberhasilan lain yang berangkat dari konsep yang berbeda, tentunya akan mengalami diversifikasi yang beragam pula.

Maka menurut saya (boleh berbeda) keberhasilan erat kaitannya dengan kecermatan kita dalam menentukan tujuan (bisa dibilang objective, purpose, atau goalnya). Tujuan adalah aims, dari sasaran-sasaran yang sudah kita tentukan. Sasaran-sasaran ini merupakan hal-hal yang ingin kita capai pada waktu yang akan datang, sehingga menurunkan cara atau strategi dan melahirkan motivasi untuk meraihnya. Tujuan yang tepat, akan melahirkan sejumlah strategi yang tepat pula, disamping itu tujuan yang fleksibel dan terukur akan melahirkan motivasi yang tinggi untuk meraihnya, sebab kita meyakini cita-cita yang kita pajang itu bukan utopia, melainkan sesuatu hal yang mungkin untuk kita raih.

Maka sebelum menginginkan keberhasilan, sudahkah kita menetapkan tujuan kita? JIka sudah seberapa jauh hasil yang kita capai untuk mendekati tujuan tersebut? Jika sudah dekat maka dapat dikatakan kita berhasil, akan tetapi jika belum bukan berarti gagal. Hanya saja memerlukan waktu yang lebih panjang agar kita lebih dewasa.

(reupoad dari tulisan lawas saya di tahun 2004)

Hayu Ahhh ….

Posted on Updated on

“Romo Magnis pernah mengatakan kepadaku bahwa orang menjadi ateis lebih banyak bukan karena pemikiran filsafat atau sains. Mereka menjadi ateis karena tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pengikut agama. Mereka melihat kontradiksi antara apa yang dikhotbahkan dengan apa yang dilakukan”

wm

Kutipan di atas adalah satu diantara sekian tulisan Kang Jalal, yang sangat saya suka. Beberapa bukunya dulu tuntas saya lahap, mulai yang berhubungan dengan buku sosial, komunikasi dan agama. Entah kenapa membaca tulisan beliau terasa pas. Enak dan mencerahkan, berbeda dengan tulisan atau buku yang lain, terasa dangkal, artifisial dan cenderung dogmatis.

Yup Benar, Jalaluddin Rakhmat adalah satu diantara sekian tokoh yang sangat kukagumi. Terlepas dari predikat Syiah, Ijabi dan kontroversial (katanya itu juga) toh saya menikmatinya. Pernah beberapa kali dulu bertandang ke Kiara Condong Bandung, tempat pengajian sekaligus Sekolah yang cukup terkenal itu, dan kekaguman itu semakin menemui titik nyata.

Kini selang beberapa tahun selepas kegiatan berkumpul, berdiskusi, mengaji (di organisasi dulu) rasa kangen membaca buku-buku bermutu mulai hinggap lagi. Jangan dibandingkan memang, jika dulu semasa sekolah dan kuliah membaca begitu enak saya lakoni, baik itu di kelas, di halte bus bahkan di perjalanan dari rumah ke sekolah. Maka kini aktivitas itu agak susah terulang lagi. Pergi pagi dan pulang malam. Pun di jalan tak bisa membaca karena menyetir… hadeuh rasanya pengen balik lagi kemasa pake angkot atau bus dulu hehe…

wm (2)Belum lagi kadang kebutuhan rumah tangga, anak yang bersekolah, les, kerusakan mobil, motor dan biaya rumah membuat isi kantong terkuras. Maka buku-buku bermutu yang biasanya dulu rajin saya sambangi (palasari yang murah), sekarang harus mikir dua kali. Yah mungkin ini hanya alasan saja, bisa jadi demikian. Tapi terus terang saja membaca membuat diri kita berbeda.

Hayyu ah mulai membaca lagi (dan menulis juga tentunya hihi …)

Seni Atau Bahasa ya … ???

Posted on Updated on

English_First “maafin Ayah ya Ka .. belum jadi Ayah yang sempurna buat Kaka. Banyak keinginan kaka yang belum bisa diwujudkan”

Begitu saja kata-kata itu keluar dari mulutku. Saat itu hari Sabtu, siang tepatnya. Hari-hari biasa di waktu yang sama biasanya kami berada di luar rumah, hanya weekend saja seperti kemarin kami bisa bercanda dan melakukan banyak hal di rumah. Entah kenapa di tempat tidur itu aku terbesit hal itu, hingga aku utarakan padanya.

“Ayah.. Kaka seneng kok punya Ayah dan Ibu seperti sekarang. Walo kata ayah nggak sempurna, tapi Ka bersyukur masih punya orang tua, coba klo Ka nggak punya. Kan sedih banget Yah …..”

Jawaban polos itu keluar begitu saja tanpa saya duga sebelumnya. Mulutnya sih masih bau ‘jigong’ karena baru bangun tidur, tapi isinya sangat … sangat membuatku tertegun, heran sekaligus bersyukur. Tak menyangka saja kata-kata itu keluar dari mulut Anak Gadis berusia kurang dari 7 tahun atau kelas 1 SD… huuhh….

Hari ini seperti biasa ia bersekolah. Jadwal rutin yang harus ia laluli setiap hari dengan menempuh perjalanan selama lebih dari 1 jam dari rumah. Letak rumah kami memang cukup jauh, tapi memang untuk saat ini, Sekolah ini lah yang terbaik untuknya. Disamping sekolah ini adalah tempat ibu nya mengajar, namun memang dari sisi pembelajaran, kualitas, dan seterusnya bisa dikatakan lebih baik dari Sekolah-sekolah Negeri pada umumnya. Bisa saja sih kami sekolahkan ia di Sekolah dekat rumah, namun rasanya kurang lengkap jika ia yang lucu dan dulu kehadirannya sangat kami tunggu itu bersekolah di tempat biasa. Khawatir saja bakatnya tidak terasah, belum lagi lingkup sosial dan pendidikan sekitar yang bisa turut memengaruhi perkembangan pribadi dan sosialnya. Maklum saja waktu bersua kami adalah di waktu sore dan malam, sehingga tak mungkin waktu yang sempit itu cukup untuk membentuk dan mengajarkannya kebaikan seperti yang diinginkan. Maka sekolah ini adalah sekolah terbaik untuknya, disamping kami yakin akan cara pembelajarannya juga sang ibu ibunya bisa turut melihat dan memantaunya selagi bekerja mengajar kelas 3.

Kami berangkat dari rumah jam 6 kurang biasanya, atau lewat sedikit. Jika jalanan lengang Pukul 07.30 tiba di sekolah, karena dalam perjalanan harus menjemput dua siswa lainnya yang ikut dengan mobil kami ke sekolah. Sehingga waktu 1 jam harus ditambah 30 menit lagi. Waktu tempuh perjalanan yang lumayan panjang, biasanya kaka habiskan dengan tidur di jok belakang. Kami pun sigap menyiapkan bantal dan keperluan lainnya selama di perjalanan, mulai dari Susu, sereal atau makanan lainnya untuk sarapan. Tak lebih dari 15 menit meninggalkan rumah, ia tertidur pulas di belakang.

art-is-lifeHari ini masih sama seperti hari yang lain, berjalan biasa hanya cuaca saja yang berbeda. Jika seminggu kemarin hujan hampir turun setiap hari maka hari ini cuaca cukup cerah. Selepas mengantar Kaka dan Ibunya kesekolah, juga dua orang kawannya yang ikut dengan kami, saya susuri jalan sepanjang Bona Indah Cinere. Pelan saja sih, sambil menikmati udara pagi dan jalanan yang cukup lengang pagi ini. Terpampang papan reklame menawarkan banyak hal, mulai dari jasa, perbankan, pendidikan hingga photo nggak penting dari para caleg. Diantara sekian banyak reklame, ada dua spanduk yang menarik perhatian saya; global art, dan english firts. Jauh hari memang saya dan istri sempat berdiskusi tentang hal ini, yaitu rencana memasukkan les Kaka di sela-sela waktu sekolahnya. Kami sepakat bahwa ada waktu senggang ia yang terbuang percuma di sekolah, yaitu waktu diantara pulang sekolah dan waktu kujemput pulang kerumah. Ada jarak 3 jam lebih, khususnya di hari Senin, Kemis dan Jumat. Untuk hari Selasa dan Rabu ada eskul tambahan; Seni Tari dan english club, sehingga waktu tunggu sampai kujemput hanya sekitar 40 sd 1 jam. Tapi di luar hari itu… rasanya sayang kalau cuma menunggu di sekolah.

Maka kami bersepakat untuk menyisihkan hasil pendapatan kami; diluar kebutuhan pokok tentunya, untuk memasukan ia ke tempat les. Dua pilihan yang kami rasa tepat untuknya, Seni dan Bahasa. Sempat juga untuk musik, tapi mengingat alat musik tidaklah murah, maka kami baru siap memasukkannya ke les musik di kelas 2 nanti. Maklum saja di tahun ini kami berencana ingin mencicil mobil… ya untuk keperluan operasional juga termasuk untuk kelancaran usaha catering kami. Mudah-mudahan target itu tercapai. Amiin

Back to topic, Bahasa atau Seni adalah dua skill yang saya rasa bisa diasah sedari dini. Atau mungkin dimunculkan sejak masih anak-anak. Keseimbangan kerja antara otak kanan dan kiri menjadi pertimbangan utama dalam perkembangan manusia. Sudah bukan jamannya lagi kerja berat berada di otak kiri, seperti masa kita dahulu. Maka kemampuan lain diluar akademik sekolah, menjadi nilai tambah anak-anak masa kini. Bukan berarti membebani mereka dengan setumpuk kegiatan (tak perlu) namun menyalurkan hasrat, aktivitas dan curiousity anak-anak yang besar menuju kegiatan yang positif. Karena di masa-masa usia inilah mereka mampu menyerap segala macam hal, baik itu yang baik maupun yang buruk.

Kini diantara waktu 3 hari itu yang tersisa buat Kaka, pilihannya hanya dua, les dalam bidang seni atau bahasa (english). Mudah-mudahan di awal Februari nanti kami sudah bisa memutuskan yang terbaik buatnya, dan ia enjoy menjalaninya. Semoga aja 🙂