Month: December 2013

IA

Posted on

Image Ia pergi sendirian malam itu. Menyusuri trotoar di tengah temaram kota. Langit yang gelap seakan membawa pesan untuk segera berdiam diri saja dirumah, menikmati aroma selimut di dalam kasur dengan aneka bantal empuk disamping kanan kirinya. Tapi tak berlaku hari itu, juga mungkin hari-hari lainnya. Desakan untuk segera melunasi janjinya pada sang bunda membuat langkahnya tegap menatap temaram kota malam itu. Tak dihiraukan angin yang menusuk di sela-sela kulitnya yang lembut, atau deru mesin kendaraan yang galak dan berteriak bersahutan di kejauhan. Lalu lalang orang di sekeliling pun tak ia indahkan, sama seperti bintang-bintang di langit yang tuli akan tugasnya mempercantik langit di malam hari. Mereka tunduk pada titah lalim kegelapan berupa mendung pertanda akan turun hujan. Langit di malam itu memang pekat, petir kerlap mengkilat menunjukan kuasa. Ramai kemudian manusia tergesa-gesa menuju peraduan, takut akan apa yang terjadi kemudian. Mungkin hujan besar disertai angin, atau badai dan air bah sekalipun kan tumpah ruah di jalanan. Bunyi klakson terdengar kemudian, langkah pejalan kaki semakin cepat. Seperti berlari. Bukan langkah kecil kaki miliknya tentunya, namun langkah kaki dewasa yang telah paham pahit manis kehidupan. Hingga kemudian terdengarlah rintik hujan, perlahan tetesannya mulai membasahi rambutnya yang kotor oleh debu. Baju nya pun perlahan dingin, pertanda basah mulai merasuki kulitnya. Kain penutup tubuh itu lenyap sudah tak berasa, hanya air dan air yang kini menyelimuti kulitnya.

Bingung, tak tahu harus kemana. Rumah dimana rumahnya, ia mendongak kekanan dan kekiri. Sambil berjalan pelan ia susuri deret pertokoan itu dengan lunglai. Lampu-lampu neon yang sebelumnya menjelma laiknya matahari telah purna menjalankan tugas. Pintu-pintu pun kini tertutup rapat, tak ada lagi yang terbuka pun demikian jendela yang biasanya menjadi tempat pelipur udara yang gemar bergantian rupa dan bau itu. Makin lama ia berjalan makin tak terasa langkah kakinya menginjak tanah. Entahlah sudah berapa langkah kakinya itu berjalan, ribuan, mungkin saja jika ia bias menghitung dengan benar. Sudah lah, ia hanya tahu ketika malam berganti terang maka itulah pertanda hari baru tiba. Tanpa bilangan angka pun ia mampu melewati pergantian hari itu hingga saat ini.

Malang petualangannya harus terhenti malam itu. Di tengah semangat menepati janjinya pada sang bunda, genangan air yang meninggi membuat jalanan malam itu Nampak lenyap menjadi satu. Menyatu menjadi daratan lembut yang menyimpan marabahaya. Hingga kemudian langkah kakinya tersungkur masuk kedalam parit yang tak diketahuinya. Tubuhnya lalu lenyap terjerembab, terjebak dalam pusaran air yang semakin besar. Hingga menyeretnya kedalam arus ombak yang semakin terjal untuk dilawan. Tubuhnya tak kuat lama menahan gempuran sang ombak. Nafasnya tercekat, tak ada sisa di rongga parunya untuk udara. Air mengaliri setiap ruang yang tersisa. Matanya perlahan terpejam, tak ada ronta yang terlalu sakit ia tunjukkan. Kepasrahan membuatnya terdiam dan rela kembali ke pangkuan-Nya. Hingga kemudian terlihat sejenak sosok itu. Sosok lelaki tegap yang dicarinya selama ini, untuk dibawanya pada sang bunda.  Ayah pulanglah, adik dan bunda menunggumu di rumah []